Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unissula Semarang terus memperkuat jaringan internasional. Salah satunya memperluas wawasan akademik lintas negara. Diantaranya dengan San Pedro College (SPC) Filipina. Dalam momen tersebut juga dilakukan penandatanganan kerjasama oleh Dekan FEB Unissula, Prof Dr Heru Sulistyo SE MSi dan Dekan School of Business Management, Education, Arts, and Sciences (SBMEAS) SPC, Dr Genaro F Alderite Jr LPT PhD.
“Penandatanganan ini menjadi tonggak awal penguatan sinergi antara kedua institusi di bidang tridharma perguruan tinggi, kegiatan mahasiswa, hingga pengembangan kurikulum,” ungkap Prof Heru, Selasa (29/7/2025).
Menurutnya banyak kerjasama baru yang dapat dilaksanakan dalam waktu dekat dalam bentuk kolaborasi kegiatan internasional antara FEB Unissula dan SPC.
Selain penandatanganan kerjasama juga terselenggara seminar internasional. Dengan pembicara dari kedua belah pihak. Disamping itu juga melakukan kunjungan budaya ke Yogyakarta.
Melalui kegiatan ini, menegaskan komitmen Unissula sebagai kampus yang aktif berperan dalam ekosistem pendidikan global. “Kami percaya bahwa kolaborasi lintas negara adalah kunci untuk mencetak lulusan yang kompetitif secara internasional dan mampu menghadapi tantangan global,” ujar Prof Heru.
Program ini juga menjadi bagian dari strategi internasionalisasi dalam mendukung pencapaian visi universitas sebagai World Class Islamic University.
Hadir dari SPC Dr Genaro F. Alderite Jr LPT PhD, Robelle Anne Maneja CPA CMITAP MBA, Dr Vivien Grace Jubahib LPT, reen Mariz Pio MSBio, Arvie Joy Villegas LPT MAED-TSS, Romelle P. Hilamon LPT. Sementara dari FEB Unissula diikuti oleh pimpinan dekanat, kaprodi dan sekretaris prodi, serta seluruh delegasi yang terlibat pada setiap kegiatan.
Rizki Nur Muhammad Haqa mahasiswa S1 Teknik Elektro FTI Unissula berhasil mendapatkan pekerjaan tetap di PT Nihon Seiki. Sebuah perusahaan manufaktur pembuatan sparepart otomotif dan elektronik di Cikarang. Dirinya bekerja dalam waktu kurang dari satu bulan setelah dinyatakan lulus pada sidang tugas akhir Juni 2025. Dari lebih dari 100 pelamar, Haqa menjadi salah satu dari empat kandidat yang diterima, Selasa (29/7/2025).
Meski tidak memiliki latar belakang bidang Elektro Haqa bercerita ketertarikannya di bidang teknologi mengarahkannya pilih Prodi Elektro Unissula. “Terutama setelah membaca berita tentang prestasi Tim Robotik Unissula di ajang internasional di Amerika, akhirnya saya bergabung di Teknik Elektro Unissula melalui jalur beasiswa KIP-Kuliah,” jelasnya.
“Awalnya saya merasa minder karena tidak punya dasar, tapi dosen-dosen di Teknik Elektro Unissula membimbing dengan sabar dan sistem pembelajarannya sangat mendukung,” lanjutnya.
Selama kuliah, Haqa aktif di Tim Robotik Unissula dan mengikuti dua kali Kontes Robot Indonesia (KRI). Yaitu pada 2023 dan 2024. Ditambah pengalaman dalam program magang di PT Nihon Seiki Indonesia (NSI) selama enam bulan.
Melalui program magang yang difasilitasi FTI, merupakan jalan mahasiswa untuk tidak sekadar memahami praktik lapangan. Tetapi juga membangun koneksi profesional yang berdampak langsung pada masa depan karir. “Pengalaman magang saya sangat berperan dalam proses rekrutmen. Tapi yang paling utama adalah bagaimana kampus menjalin hubungan baik dengan perusahaan, sehingga mahasiswa punya kesempatan belajar dan dikenal lebih dekat oleh industri,” jelasnya.
Kisah Haqa merupakan bukti lulusan Teknik Elektro Unissula tidak hanya dibekali kemampuan akademik. Tetapi juga pengalaman industri yang nyata.
FTI Unissula terus berkomitmen membangun sinergi dengan dunia kerja. Memastikan para lulusannya siap bersaing dan langsung terserap oleh pasar tenaga kerja.
Fakultas Teknik Unissula membuka Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (MPWK). Pembukaan program studi baru tersebut berdasarkan SK Dirjen Dikti No.129/B/O/2025.
Dekan FT Dr Abdul Rochim ST MT menegaskan program MPWK dirancang tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan luas dan keterampilan praktis. “Tetapi juga menjadikan mereka agen perubahan yang menyatukan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan,” jelasnya, Selasa (29/7/2025).
“MPWK hadir mencetak planner wilayah dan kota yang mampu mengintegrasikan berbagai dimensi pembangunan dengan tetap berpegang pada prinsip Islam,” lanjutnya.
Visi MPWK adalah menjadi yang terdepan dalam bidang perencanaan wilayah dan kota. Dengan misi mengembangkan kemampuan analisis dan keterampilan praktis mahasiswa dalam merencanakan serta mengelola wilayah secara berkelanjutan.
Program ini menitikberatkan pada peningkatan kompetensi untuk menyelesaikan berbagai persoalan terkait wilayah pesisir, perkotaan, dan pedesaan. Sekaligus membuka peluang kerja melalui pengembangan kerjasama nasional maupun internasional.
Ketua Program Studi S2 MPWK Dr Ir Mohammad Agung Ridlo MT menambahkan alumni MPWK akan memegang peran strategis dalam pembangunan perkotaan dan pedesaan. “Mereka akan bersinergi dengan berbagai instansi pemerintahan seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperakim), Dinas Tata Ruang (Distaru), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta dinas-dinas lainnya terkait dengan pembangunan,” ungkapnya.
Fokus keahlian pada perencanaan wilayah pesisir, perkotaan, pedesaan, dan manajemen pemerintahan. Sehingga lulusan MPWK diharapkan mampu menciptakan solusi inovatif sekaligus memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional dan internasional.
“Bagi calon mahasiswa yang ingin menjadi bagian dari generasi planner unggul dan berprinsip, MPWK Fakultas Teknik Unissula merupakan pilihan tepat untuk menyiapkan diri menghadapi tantangan pembangunan wilayah dan kota baik di Indonesia maupun di dunia,” ujarnya.
1991 mahasiswa Unissula berpartisipasi dalam peningkatan kualitas tempat tinggal tidak layak huni di Jawa Tengah. Mereka tergabung dalam program KKN Tematik angkatan ke- 20. Adapun kegiatan bekerjasama dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Perumahan (Disperakim) Provinsi Jawa Tengah.
Rektor Unissula Prof Dr Gunarto SH MH mengungkap mahasiswa diterjunkan untuk peningkatan kualitas tempat tinggal tidak layak huni. “Program ini sangat penting karena memberikan manfaat untuk masyarakat Jawa Tengah. Dan sesuai dengan program pemerintah, maka sekarang Unissula ikut serta membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan di Jawa Tengah,” ungkapnya dalam pelepasan KKN Tematik di Ruang Sidang Lt. 3 Biro Rektor Unissula, Selasa (29/7/2025).
Rektor juga mengingatkan bahwa kegiatan KKN tidak hanya bermanfaat bagi kepentingan pendidikan. “Namun juga merupakan bagian dari cita-cita Unissula dalam berjuang mewujudkan masyarakat sejahtera. Sehingga program ini sangat penting bagi mahasiswa, bagi Unissula, bagi masyarakat, juga pemerintah,” ungkapnya.
Selanjutnya Perwakilan Disperakim Jawa Tengah Irawan Dwi Yuliantoro ST MT mengucapkan terimakasih atas kontribusi Unissula dalam membantu mewujudkan visi pemerintah.
“Melalui kegiatan KKN Tematik dalam membantu pemerintah menangani rumah tidak layak huni di Jawa Tengah melalui kegiatan verifikasi dan validasi rumah tidak layak huni untuk mewujudkan visi pemerintah dalam program prioritas satu KK satu rumah layak huni,” ungkapnya.
Oleh: Agus Prasetia Wiranto, S.H., M.H. Dosen Hubungan Internasional, Fakultas Hukum Unissula
Konflik perbatasan antara Kamboja dan Thailand kembali mencuat dalam dinamika kawasan Asia Tenggara. Perselisihan ini, yang berakar pada klaim atas wilayah di sekitar Candi Preah Vihear—situs warisan dunia UNESCO—telah menimbulkan ketegangan diplomatik dan militer berkepanjangan. Bentrokan bersenjata yang berulang di wilayah tersebut menunjukkan bahwa konflik bilateral ini tidak dapat dipandang sebagai isu lokal semata, melainkan memiliki dimensi internasional yang lebih luas, termasuk implikasi terhadap stabilitas kawasan dan Indonesia sebagai negara anggota ASEAN.
Secara hukum internasional, sengketa antara Thailand dan Kamboja telah melalui beberapa tahap penyelesaian formal. Pada tahun 1962, Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan bahwa Candi Preah Vihear berada di wilayah Kamboja. Namun, masalah tidak berakhir di situ. Permasalahan utama terletak pada penentuan garis batas di sekitar candi tersebut. Thailand menolak beberapa klaim wilayah yang diajukan Kamboja, sehingga memicu ketegangan kembali pada dekade 2000-an, bahkan sempat berujung pada kontak senjata yang menewaskan sejumlah prajurit dari kedua negara.
Ketegangan terakhir mencatat peningkatan eskalasi yang mengkhawatirkan. Pemerintah Thailand melalui laporan media Thai Enquirer mengonfirmasi bahwa sebanyak 22 orang tewas, terdiri dari 14 warga sipil dan 8 tentara. Sementara itu, sedikitnya 140 orang mengalami luka-luka. Di pihak Kamboja, jumlah korban jiwa tercatat sebanyak 13 orang. Puluhan ribu warga dari kedua sisi perbatasan terpaksa mengungsi untuk menghindari dampak langsung dari konflik bersenjata ini. Situasi kemanusiaan pun mulai menjadi sorotan internasional.
Perjanjian-perjanjian internasional, seperti Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) 1976 dan prinsip-prinsip Piagam ASEAN, secara jelas menekankan pentingnya penyelesaian damai atas segala bentuk perselisihan antarnegara. Sayangnya, implementasi prinsip-prinsip tersebut sering kali terbentur oleh nasionalisme sempit dan kalkulasi politik domestik dari negara-negara yang bersengketa.
Agus Prasetia Wiranto, S.H., M.H., Dosen Hubungan Internasional Fakultas Hukum Unissula, menyampaikan bahwa konflik ini merupakan ujian bagi solidaritas kawasan.
“Sengketa ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena akan melemahkan posisi ASEAN sebagai organisasi regional yang selama ini menjunjung tinggi penyelesaian damai. Ketika dua negara anggota ASEAN saling serang, maka kredibilitas ASEAN dalam menyelesaikan konflik eksternal juga dipertaruhkan,” ujar Agus.
Ia juga menambahkan bahwa konflik semacam ini harus dilihat tidak semata sebagai benturan batas wilayah, tetapi juga sebagai pertarungan simbol kedaulatan dan nasionalisme.
“Sayangnya, nasionalisme yang tidak dikontrol dengan bijak justru dapat mengabaikan norma-norma hukum internasional. Ini yang menjadi bahaya laten, karena dapat membenarkan kekerasan atas nama kedaulatan,” jelas Agus lebih lanjut.
Bagi Indonesia, ketegangan ini memberi pelajaran penting. Sebagai negara besar di Asia Tenggara dan salah satu motor diplomasi kawasan, Indonesia memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas ASEAN. Ketegangan ini juga menjadi pengingat bahwa mekanisme penyelesaian konflik regional perlu diperkuat, tidak hanya melalui forum diplomatik, tetapi juga dengan mendorong pemanfaatan forum hukum seperti Mahkamah Internasional secara aktif.
Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang dalam menjadi penengah konflik, baik di kawasan ASEAN maupun internasional. Peran aktif ini perlu terus dijaga dan ditingkatkan. Pendekatan diplomasi damai yang mengedepankan prinsip non-intervensi dan penyelesaian berdasarkan hukum internasional harus tetap menjadi pijakan utama.
“Indonesia tidak bisa pasif. Kita harus hadir sebagai fasilitator dialog yang netral, karena perdamaian kawasan juga akan menentukan posisi strategis Indonesia di mata dunia,” tutup Agus.
Konflik Thailand–Kamboja pada akhirnya mencerminkan tantangan utama bagi ASEAN: bagaimana menyeimbangkan prinsip kedaulatan dengan komitmen regional. Di sinilah peran negara-negara seperti Indonesia menjadi vital. Sebagai negara hukum yang mengedepankan penyelesaian damai, Indonesia harus terus mendorong penggunaan jalur-jalur legal formal seperti ICJ, serta memperkuat kapasitas ASEAN dalam merespons konflik internal anggotanya secara cepat dan efektif.
Prodi Akuntansi FEB Unissula menggelar kolaborasi riset internasional. Hadir Dr Genaro F. Alderite Jr LPT PhD yang berbicara tentang kesiapan transformasi digital dan kinerja keberlanjutan UMKM di Indonesia dan Filipina. Dalam momen tersebut juga dilakukan penandatangan kerjasama dengan Dekan School of Business Management, Education, Arts, and Sciences (SBMEAS) San Pedro College Filipina.
“Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya penguatan riset lintas negara. Khususnya dalam pengembangan model keberlanjutan UMKM melalui transformasi digital, inovasi bisnis, dan integrasi ekosistem digital yang relevan di kawasan Asia Tenggara,” ujar Dekan FEB Unissula Prof Dr Heru Sulistyo SE MSi, Senin (28/7/2025).
Ketua Program S1 Akuntansi Provita Wijayanti SE MSi Ak CA IFP AWP PhD menjelaskan kolaborasi ini sebagai bentuk nyata kontribusi Unissula dalam menjawab tantangan global. Terutama dalam mendukung peran UMKM sebagai penggerak utama perekonomian. “Kami juga ingin menyoroti pentingnya strategi bisnis, inovasi digital, serta kepatuhan terhadap prinsip halal dalam mendorong keberlanjutan UMKM di era digital,” ungkapnya.
Sedangkan Koordinator Kerjasama International FEB Unissula, Dr Pungky Lela Saputri SST ME AWPS CSFT menjelaskan melaui kolaborasi riset ini, FEB perkuat komitmen terus berperan aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kontribusi sosial. Sejalan dengan visi Unissula untuk menjadi Universitas Islam terkemuka yang membangun generasi khaira ummah, yakni generasi unggul, berakhlak, dan berdampak bagi umat.
Turut hadir Kaprodi D3 Akuntansi Ahmad Rudi Yulianto SE MSi Ak dan Kaprodi S2 Akuntansi Prof Dr Edy Supriayanto SE MSi CRP Ak CA. Hadir juga Kaprodi S2 Manajemen Prof Dr Ibnu Khajar SE MSi, dan Koordinator riset dan pengabdian Masyarakat FEB Dr Maya Indriastuti SE MSi Ak CA CSRS CSRA. Hadir juga dosen dan peneliti dari institusi mitra.
Fakultas Agama Islam (FAI) Unissula hadirkan narasumber dari San Pedro College Filipina, Dr Arvie Joy T. Villegas. Dalam kuliah tamu The Role of Social Science in Policy Making in Culturally Diverse Context: The Mindanao, Philippine Contexts. Division Coordinator of Social Science and Humanities, LPT-License Professional Teacher itu memaparkan pentingnya ilmu sosial dalam menyusun kebijakan publik, Senin (28/7/2025).
Menurutnya ilmu sosial diperlukan untuk menyusun kebijakan publik yang inklusif, adil, dan efektif di wilayah dengan beragam budaya seperti Mindanao. “Dengan mendorong pemahaman, memandu proses perdamaian, dan memberdayakan komunitas lokal, ilmu sosial meletakkan dasar bagi pembangunan dan harmoni yang langgeng,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia menyatakan investasi dalam pendidikan dan penelitian ilmu sosial lokal masih diperlukan. Para pembuat kebijakan harus melembagakan kolaborasi dengan ilmuwan sosial untuk memastikan pembangunan keberagaman. Menjunjung tinggi keadilan, dan memperkuat perdamaian di Mindanao dan wilayah-wilayah serupa.
Disamping itu Dekan FAI Mukhtar Arifin MLib berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan global civitas akademika terutama mahasiswa. Serta memperkaya perspektif mahasiswa terkait kebijakan dan akulturasi budaya internasional.
“Melalui kegiatan ini juga semakin memantapkan Unissula sebagai kampus yang selalu memberikan servis kepada mahasiswanya dengan suguhan materi berkelas Internasional,” pungkasnya.
Agus prasetia wiranto – Diaspora Pemuda OKU, Akademisi Unissula Semarang
Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, kita memiliki potensi sumber daya alam yang besar, masyarakat yang dinamis, serta posisi strategis di wilayah Sumatera Selatan. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan bagaimana pemerintahan daerah kita dalam satu dekade terakhir—khususnya periode 2014–2025—diliputi krisis kepemimpinan, stagnasi pembangunan, dan lemahnya pelayanan publik.
Fakta menyedihkan bahwa OKU sudah terlalu lama dipimpin oleh pelaksana tugas (Plh/Plt) setelah wafatnya Bupati terpilih pada 2021. Praktis, selama hampir satu periode penuh (2021–2025), OKU tidak memiliki pemimpin definitif yang lahir dari proses demokrasi langsung (Pilkada). Dampaknya sangat terasa: kebijakan berjalan setengah hati, pembangunan kehilangan arah, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun drastis.
Kita sudah terlalu lama dipimpin oleh wajah-wajah lama yang terus mengulang pendekatan yang sama: birokratis, lambat, tidak adaptif, dan jauh dari aspirasi rakyat muda. Tak heran bila banyak masalah yang terus menumpuk. BUMD yang seharusnya menopang ekonomi daerah justru dinyatakan “tidak sehat” dan merugi miliaran rupiah. PDAM Tirta Raja OKU bahkan mencatatkan kerugian akumulatif mencapai Rp 37,2 miliar.
Semua ini menjadi alarm bahwa OKU tidak hanya butuh pemimpin baru, tetapi juga butuh cara berpikir baru yang lebih segar, solutif, dan berani melakukan reformasi.
Agus Prasetia Wiranto, pemuda OKU sekaligus Akademis UNISSULA, menyampaikan bahwa saat ini diperlukan pergeseran paradigma dalam memilih pemimpin.
“Bukan hanya sekadar mengganti sosok, tetapi mengganti cara pandang dalam memimpin. Pemimpin muda hari ini harus mampu berpikir strategis, bertindak cepat, dan benar-benar punya keberpihakan pada rakyat,” tegasnya
Sejarah selalu membuktikan bahwa perubahan besar datang dari tangan generasi muda. Dalam konteks OKU hari ini, pemuda bukan hanya pelengkap politik, tetapi harus menjadi subjek utama dalam kepemimpinan daerah ke depan. Kita butuh pemimpin muda yang berani mengambil keputusan strategis dan tidak terjebak pada kepentingan elite lama, berpikir digital dan responsif terhadap tantangan zaman, seperti ekonomi kreatif, transparansi pemerintahan, dan pelayanan publik berbasis teknolog dan dekat dengan rakyat dan memahami denyut nadi generasi muda serta kebutuhan masyarakat bawah
Pemimpin muda bukan berarti belum matang, tetapi mereka hadir dengan energi baru, bebas dari beban masa lalu, dan memiliki keberanian untuk membongkar sistem yang stagnan, Krisis yang dihadapi OKU bukan krisis biasa. Ini adalah krisis arah, legitimasi, dan kepercayaan. Maka, solusi yang dibutuhkan juga bukan solusi biasa. Kita butuh pemimpin baru dari generasi muda OKU yang tidak hanya paham hukum dan pemerintahan, tetapi juga dekat dengan realita kehidupan rakyat.
“Kita jangan ragu memberikan ruang kepada anak muda untuk memimpin. Karena kalau kita terus bergantung pada struktur lama yang terbukti gagal mengelola daerah, maka OKU hanya akan menjadi kabupaten dengan potensi tanpa hasil nyata.” Agus Prasetia Wiranto
Pemimpin yang hadir bukan hanya karena peluang politik, tetapi karena panggilan nurani dan tanggung jawab moral. Pemimpin yang lahir dari proses demokrasi yang bersih, bukan hasil kompromi politik kekuasaan.
OKU untuk Rakyat, Bukan Sekelompok Elit, Sudah saatnya kita semua sebagai warga OKU mengambil peran dalam menentukan masa depan daerah ini. Pilihan ada di tangan kita. Apakah kita ingin terus dipimpin oleh pola lama yang membawa stagnasi, atau memberi kesempatan pada generasi muda yang siap membuktikan diri dan bekerja untuk rakyat?
Fakultas Agama Islam (FAI) Unissula menyambut kehadiran Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Applied Science Private University, Yordania. Prof Dr Abdel Salam Athwa Ali Elfandi hadir di Unissula dalam rangka Visiting Professor dan Kuliah Pakar, Jumat (25/7/2025).
Sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik. Khususnya pengembangan program joint degree, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta akses informasi beasiswa Timur Tengah.
Bertempat di Auditorium Kampus Unissula Prof Abdel Salam memperkenalkan karakteristik pendidikan tinggi kampus Yordania. Ia juga memotivasi para mahasiswa dalam menyelesaikan perkuliahan.
Pihaknya juga menekankan pentingnya semangat keilmuan dan wawasan internasional bagi mahasiswa FAI dalam menghadapi tantangan zaman.
Melalui kegiatan ini juga memperkuat komitmen Unissula menjadi universitas kelas dunia berbasis nilai-nilai Islam dan keilmuan yang unggul.
Kegiatan dihadiri dekan FAI Drs Muhammad Muhtar Arifin Sholeh MLib, Wakil Dekan 1 Dr KH Choeroni SHI MAg MPdI, dan Kaprodi Hukum Keluarga Dr Muchamad Coirun Nizar SHI SHum MHI. Hadir juga sejumlah dosen fakultas di lingkungan Unissula.
Fakultas Bahasa, Sastra, dan Budaya Unissula menggelar kuliah tamu The Role of English in Intercultural Communications. Dengan dua narasumber dari San Pedro College Filipina, Dr Vivien Grace Jubahib, LPT (Program Coordinator, Teacher Education) dan Ms Romelle Hilamon (Global Mobility Coordinator, Internationalization and Linkages Office), Jumat (25/7/2025).
Dekan FBSB Destary Praptawati SS MHum berharap melalui kegiatan ini dapat memperkuat kemampuan global mahasiswa. Serta memperkaya perspektif mahasiswa terkait Bahasa Inggris dan peranannya dalam komunikasi global.
“Kuliah tamu ini merupakan bagian dari program internasionalisasi kampus dan bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa terkait pentingnya peran bahasa Inggris sebagai alat komunikasi lintas budaya,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini juga semakin menegaskan komitmen Unissula dalam menghadirkan pendidikan berkualitas dengan perspektif global.
Dalam paparannya, Ms Romelle Hilamon menyoroti bagaimana bahasa Inggris menjadi jembatan dalam membangun pemahaman antar budaya. Strategi komunikasi serta tantangan yang dihadapi dalam komunikasi antarbudaya.
Sementara Dr Vivien Grace Jubahib membagikan pengalamannya dalam menjalin kerja sama internasional. Dan pentingnya kompetensi komunikasi dalam konteks pertukaran pelajar dan mobilitas global.
Acara yang berlangsung secara luring dan daring ini diikuti oleh dosen serta mahasiswa dari program studi Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris.